PESAN YANG TERSIRAT

Posted by Unknown Selasa, 16 April 2013 0 komentar
Pesan apapun bentuknya seringkali kita salah memahaminya, terlebih lagi pesan itu disampaikan dengan cara yang salah, sebagus apapun isi pesan disampaikan jika cara yang digunakan tidak indah dan waktu yang sesuai maka dapat dipastikan pesan tersebut menjadi salah, jikapun tersampaikan selalu akan ada cacat dan kekurangan.
Dalam kaedah pendidikan rekan-rekan mungkin sering mendengar dan hafal "At Thoriqoh Ahammu Minal Maddah" metode atau cara mengajar/mendidik lebih penting dari Materi yang akan diberikan. Mafhumul Mukholafah dari makna at Thoriqoh dapat kita artikan bahwa semua metode atau cara lebih penting dari tujuan atau materi yang akan disampaikan dan makna ini meluas pada setiap lini kehidupan kita.

Kembali pada masalah pesan, Pendidikan Kader Dakwah apa Pesan dari Nama ini ?
Rektor Universitas Djuanda Bogor beserta segenap Asatidz dengan niat tulus ikhlas dan cita-cita yang tinggi membuat sebuah Program beasiswa, program ini diberi nama Pendidikan Kader Dakwah sebuah program dengan cita-cita besar. Namun pernahkah kita mengetahui Pesan apa yang kita tangkap dari nama kebesaran ini.
Pendidikan Kader Dakwah
Bagi rekan-rekan yang mengambil jurusan Kependidikan Islam mungkin telah hafal dengan sangat definisi pendidikan, rekan-rekan boleh menambahkan definisi dari pendidikan pada kolam komentar. Kali ini saya hanya akan memberikan definisi pendidikan dalam perspektif kebijakan.
Indonesia telah memiliki rumusan formal dan operasional tentang definisi Pendidikan, sebagaimana termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang SISDIKNAS, yakni:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Dalam definisi ini ada tiga faktor penting dalam proses pendidikan :
Pertama, Proses ini dilakukan secara sadar dan terencana.
Kedua, Mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya.
Ketiga, cita-cita dari pelaksana pendidikan atau lembaga tersebut.
Definisi ini masih sangat minim sekali dan saya harus sampaikan bahwa pendidikan tidak melulu kita harus duduk manis, masuk kelas mendengarkan dosen atau ustad/ustadzah memberikan materi karna inti dari pendidikan adalah belajar kita dapat belajar kapan saja dan dimana saja.
Kader
Kita sering mendengar kata kader, mulai dari kader partai, kader posyandu, kader dakwah dan kader-kader lainya.  jika rekan-rekan searching di internet kader diarikan : 1 perwira atau bintara dl ketentaraan; 2 orang yg diharapkan akan memegang peran yg penting dl pemerintahan, partai, dsb; 

Jika mendapat imbuhan pe dan an. Maka dapat diartikan proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader:
Dari definisi diatas kader merupakan orang yang dapat diharapkan memegang peranan penting, jika kader dakwah maka orang-orang yang dapat diharapkan memegang peranan penting dalam dakwah.
Ketika Muhammad Salallahu'alaihi Wa Sallam mendapatkan tugas kenabiannya dengan serta merta ia mempersiapkan orang-orang di sekelilingnya menjadi Kader yang dapat membantunya memerankan tugas menyampaikan ketauhidan di santaro wilayah arab.    

Dakwah

Apakah Ketika ada seseorang yang mengajak kita untuk sholat subuh berjamaah termasuk dakwah? apakah ketika ada seseorang yang mengingatkan kita untuk tidak berdua dengan lawan jenis termasuk dakwah? Apakah ceramah di depan audien termasuk dakwah? dan apakah ketika alumni kader dakwah menjadi pedagang apapun bentuknya merupakan kegagalan dari program tersebut.

Dakwah bagi sebagian orang hanya berwujud ceramah dihadapan Audien menyapaikan Ayat Al Qur'an dan Sunnah-Sunnah Rasulullah dan para sahabat. Mengajarkannya di Taman Pendidikan Al Qur'an (TPA) dan Madrasah Diniyah (MD). Sehingga ketika kita melakukan itu berarti kita bukan Kader Dakwah.
Secara bahasa dakwah merupakan Isim Masdar dari kata "  ÙŠØ¯Ø¹- داع " yang berarti memanggil, mengajak atau menyeru. Secara istilah dakwah adalah proses mengajak/menyeru ummat manusia untuk beriman kepada Allah agar bahagia dunia dan akhirat. Orang yang menyebarkan dakwah disebut dengan Dai.
Dalam tulisannya dakwah kontemporer Dr. Adian Husaini beliau mengutip :
Dalam penelitiannya, Syekh Abul Hasan Ali an-Nadwi, seorang ulama besar dari India, menemukan, bahwa sejak zaman Rasulullah saw, umat Islam belum pernah mengalami masalah keimanan yang lebih berat, ketimbang yang dihadapi saat ini, di zaman modern ini. Beliau menulis:   
"di saat sekarang ini selama beberapa waktu dunia Islam telah dihadapkan pada ancaman kemurtadan yang menyelimuti bayang-bayang di atasnya dari ujung ke ujung…Inilah kemurtadan yang telah melanda muslim Timur pada masa dominasi politik Barat, dan telah menimbulkan tantangan yang paling serius terhadap Islam sejak masa Rasulullah saw…Filsafat materialistis Barat ini tak diragukan lagi adalah "agama" terbesar yang diajarkan di dunia setelah Islam. Ia adalah agama terbesar dipandang dari sudut keluasan bidangnya; agama yang paling mendalam dipandang dari sudut kedalaman tancapan akarnya… bahwa kemurtadan-kemurtadan macam inilah yang pada masa sekarang melanda dunia Islam dari ujung satu ke ujung yang lain. Ia telah melancarkan serangan gencarnya dari rumah ke rumah dan dari keluarga ke keluarga. Sekolah-sekolah dan universitas semua telah dibanjiri dengannya. Hampir tak ada keluarga yang masih beruntung tak memiliki anggota yang menganut kepercayaan ini. (Abul Hasan Ali An-Nadwi, 'Ancaman Baru dan Pemecahannya' dalam buku Benturan Barat dengan Islam, (1993:13-19).
Zaman dahulu ancaman keimanan datang dalam bentuk fisik, zaman modern ini berubah menjadi sebuah peradaban barat yang sekuler, materialistis dan liberalis. Paham-paham yang bertentangan dengan Islam dijejalkan ke pikiran kaum Muslim. Suka atau tidak, paham-paham itu telah menyerbu jantung-jantung pertahanan umat Islam.
Disaat sebagian dai membangun ummat ini, disisi lain ancaman datang dari perdaban barat yang menjadikan nafsu dan kebebasan sebagai raja, nilai kemanusia perlahan tidak dihiraukan bahkan dihilangkan. Menilai segalanya dengan materi dan kebendaan. Ancaman ini masuk keseluruh jantung perdaban umat Islam, rumah-rumah, sekolah-sekolah, kampus-kampus bahkan para dai tidak terlepas dari ancaman ini. 

Untuk mencegah hal diatas, sejatinya seluruh komponen yang ada di Indonesia bertanggung jawab didalamnya baik Pemerintah maupun masyarakat.  Dan solusinya adalah mempersiapkan kader Dai yang tidak hanya kompeten dalam dakwahnya namun juga kompeten dalam bidang teknologi, Informasi dan komukasi. Maka sangat tepat sekali, jika Universitas Djuanda mengadakan program Pendidikan Kader Dakwah.

Dari penjelasan di atas saya akan coba menarik kesimpulan bahwa definisi Pendidikan Kader Dakwah adalah suatu proses sadar dan terencana oleh lembaga Universitas Djuanda dalam memberikan bimbingan dan pembelajaran kepada seseorang atau lebih yang diharapkan dapat mengemban dakwah.
Memberi Manfaat, dan Menebar Kebaikan
Apa pesan besar yang tersirat dari Program Pendidikan Kader Dakwah ???
Jika kita membaca ulang definisi dari Pendidikan Kader Dakwah sebenarnya kita akan mendapati jawaban pertanyaan ini, dan rasanya kita baru sadar bahwa kita memiliki tanggung jawab yang begitu besar untuk ummat ini.

Agar tidak terlalu terkesan besar dan berat, Saya akan sederhanakan menjadi dua kalimat saja yakni "MEMBERI MANFAAT dan MENEBAR KEBAIKAN".  Kapan pun, siapapun, di Manapun kita, Kalimat ini yang harus kita Miliki dan kita tanam dalam hati kita kemudian berusaha menampilkannya dengan amal-amal kebaikan.
Seorang dai tidak hanya mengajak kepada kebenaran namun juga ia harus cerdas menyampaikan kebenaran tersebut, baik isinya, indah caranya, tepat waktunya, bermanfaat dan berpahala.
Syarat memberi adalah memiliki, Dalam mahfudzot dikatakan "Fakidusy Syai Laa Yu'thi" Jika tidak punya takkan bisa memberi.

Bagaimana kita bisa memberi jika tak ada yang kita punya. bagaimana kita dapat berbagi ilmu bila Nilai "IPK" kita rendah, bagaimana kita mengajar Al-Qur'an bila kita sendiri belum mahir atau hafal Al-Qur'an. Bagaimana kita bisa memberi sebagian harta kita kalau buat kita saja pas-pasan, bagaimana pesan kita untuk berakhlak baik sampai kepada saudara kita bila akhlak kita belum baik...

Terus berbenah dan mempersiapkan diri untuk dapat memberi manfaat dan menebar kebaikan adalah keharusan, dilakukan dari diri sendiri, dari yang terkecil dan dimulai dari sekarang.
Semoga Pesan Nama dari Pendidikan Kader Dakwah ini bisa kita fahami, walaupun kita tahu si pemberi pesan menyampaikannya dengan cara yang tidak indah dan waktu yang tidak tepat.

Wallahu'alam.wrr.wb

Baca Selengkapnya ....

KAMI HANYA INGIN SEPERTI MEREKA

Posted by Unknown Senin, 11 Februari 2013 0 komentar
KAMI HANYA INGIN SEPERTI MEREKA
Kami memang bukan sekelompok pemuda yang harus pergi dari penguasa yang dzalim lagi berbuat syirik dalam mempertahankan keimanannya seperti Ashabul Kahfi, tapi kami ingin belajar seperti mereka mempertahankan keimanan kami,,,
Doa para pemuda kahfi menjadi doa kami :
“Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan Kami (ini).” (Al-Kahfi: 10)
Kami bukanlah para Sahabat Rasul pilihan dengan segudang prestasi yang mendapatkan pendidikan luar biasa  dari sang Nabi. Tapi kami berupaya untuk meneladani para Sahabat yang mulia dan tentu sang Guru yang luar biasa.
Kami adalah kader sebuah proses panjang  menjadi pemimpin,,, pemimpin diri, pemimpin keluarga, pemimpin masyrakat, pemimpin Bangsa dan Negara, tidak kami sebut pemimpin Agama karena itu sebuah keharusan,
Allah mengajarkan kami melalui perantara orang-orang bijak lagi baik di Universitas Djuanda Bogor mengajarkan tentang hidup menjadi mulia di dunia yang fana ini dan akhirat yang tak berkesudahan.
Tahun 2006 dimulailah program pengkaderan, Pendidikan Kader Da’wah Namanya, 10 pemuda/I direkrut untuk mengikuti program tersebut. Program ini terus berlanjut dan akan berlanjut….
Kami sadar betul cita-cita para pimpinan kami,,
Doakan kami dalam setiap doa kalian,,
Maafkan kami jika kadang kami belum bisa memahami kalian,,,
Kami akan tetap ada dan berjanji akan tetap berkarya demi Agama ini, bangsa  dan Negara ini,,,
(Mr. Zen)

Baca Selengkapnya ....

Profil Kader Dakwah (10 Kepribadian Seorang Kader)

Posted by Unknown 0 komentar
Sebagai seorang kader Dakwah atau pun sebagai pribadi muslim harus mengatahui bagaimana ciri dari kader yang tangguh itu yang akan menjadi generasi penerus umat di jaman yang semakin kacau ini. Inilah 10 ciri dari seorang kader tersebut:
Akidah adalah asas dari amal. Amal-amal yang baik dan diridhai Allah lahir dari aqidah yang bersih. Dari sini akan lahir pribadi-pribadi yang memiliki jiwa merdeka, keberanian yang tinggi, dan ketenangan. Sebab, tak ada ikatan dunia yang mampu membelenggunya, kecuali ikatan kepada Allah swt. Seorang kader dakwah yang baik akan selalu menjaga kemurnian aqidahnya dengan memperhatikan amalan-amalan yang bisa mencederai keimanan dan mendatangkan kemusyrikan. Sebaliknya, selalu berusaha melakukan amalan-amalan yang senantiasa meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt.
Aplikasi: Senantiasa bertaqorrub (menjalin hubungan) dengan Allah, ikhlas dalam setiap amal, mengingat hari akhir dan bersiap diri menghadapinya, melaksanakan ibadah wajib dan sunnah, dzikrullah di setiap waktu dan keadaan, menjauhi praktik yang membawa pada kemusyrikan.

2. Shahihul Ibadah (ibadahnya benar)
Ibadah, wajib dan sunnah, merupakan sarana komunikasi seorang hamba dengan Allah swt. Kedekatan seorang hamba ditentukan oleh intensitas ibadahnya. Ibadah menjadi salah satu pintu masuk kemenangan dakwah. Sebab, ibadah yang dilakukan dengan ihsan akan mendatangkan kecintaan Allah swt. Dan kecintaan Allah akan mendatangkan pertolongan.
Aplikasi: Menjaga kesucian jiwa, berada dalam keadaan berwudhu di setiap keadaan, khusyu dalam shalat, menjaga waktu-waktu shalat, biasakan shalat berjamaah di masjid, laksanakan shalat sunnah, tilawah al-Qur’an dengan bacaan yang baik, puasa Ramadhan, laksanakan haji jika ada kesempatan.

3. Matinul Khuluq (akhlaqnya tegar)
Seorang kader dakwah harus ber-iltizam dengan akhlaq islam. Sekaligus memberikan gambaran yang benar dan menjadi qudwah (teladan) dalam berperilaku. Kesalahan khuliqiyah pada seorang kader dakwah akan berdampak terhadap keberhasilan dakwah.
Aplikasi: Tidak takabur, tidak dusta, tidak mencibir dengan isyarat apapun, tidak menghina dan meremehkan orang lain, memenuhi janji menghindari hal yang sia-sia, pemberani, memuliakan tetangga. Bersungguh-sungguh dalam bekerja, menjenguk orang sakit, sedkit bercanda, tawadhu tanpa merendahkan diri.

4. Qadirul’alal Kasb (kemampuan berpenghasilan)
Kita mengenal prinsip dakwah yang berbunyi ”shunduquna juyubuna (sumber keuangan kita dari kantong kita sendiri)”. Yang berarti setiap kader harus menyadari bahwa dakwah membutuhkan pengorbanan harta. Oleh karena itu setiap kader dakwah harus senantiasa bekerja dan berpenghasilan dengan cara yang halal. Tidak menjadikan dakwah sebagai sumber kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi sumber penghasilan haram, menjauhi riba, membayar riba, membayar zakat, menabung meski sedikit, tidak menunda hak dalam melaksanakan hak orang lain, bekerja dan berpenghasilan, tidak berambisi menjadi pegawai negeri. Mengutamakan produk umat Islam, tidak membelanjakan harta kepada non-muslim.

5. Mutsaqaful Fiqr (pikirannya intelek)
Intelektualitas seorang kader dakwah menjadi salah satu faktor penentu keberhasilan dakwah. Sejarah para nabi juga memperlihatkan hal itu. Kita melihat bagaimana ketinggian intelektualitas Nabi Ibrahim, dengan bimbingan wahyu, mampu mematahkan argumentasi Namrud. Begitu pula kecerdasan Rasul dalam mengemban amanah dakwahnya, sehingga ia digelari fathonah (orang yang cerdas).
Aplikasi: Baik dalam membaca dan menulis. Upayakan mampu berbahasa Arab, menguasai hal-hal tertentu dalam masalah fiqih seperti shalat, thaharah dan puasa, memahami syumuliatul Islam, memahami ghazwul fikri, mengetahui problematika kaum nasional dan internasional, menghafal al-Qur’an dan hadits, memiliki perpustakaan pribadi sekecil apapun.

6. Qawiyul Jism (fisiknya kuat)
Beban dakwah yang diemban para kader dakwah sangat berat. Kekuatan ruhiyah dan fikriyah saja tidak cukup untuk mengemban amanah itu. Harus ditopang oleh kekuatan fisik yang prima. Sejumlah keterangan al-Qur’an dan Hadits menjelaskan betapa pentingnya aspek ini.
Aplikasi: Bersih pakaian, badan dan tempat tinggal, menjaga adab makan dan minum sesuai dengan sunnah, berolahraga, bangun sebelum fajar, tidak merokok, selektif dalam memilih produk makanan, hindari makanan/minuman yang menimbulkan ketagihan, puasa sunnah, memeriksakan kesehatan.

7. Mujahidu Linafsihi (bersungguh-sungguh)
Bersungguh-sungguh adalah salah satu ciri orang mukmin. Tak ada keberhasilan yang diperoleh tanpa kesungguhan. Kesadaran bahwa kehidupan manusia di dunia ini sangat singkat, dan kehidupan abadi adalah kehidupan akhirat, akan melahirkan kesungguhan dalam menjalani kehidupan.
Aplikasi: Menjauhi segala yang haram, menjauhi tempet-tempat maksiat, memerangi dorongan nafsu, selalu menyertakan niat jihad, hindari mengkonsumsi yang mubah, menyumbangkan harta untuk amal islami, menyesuaikan perkataan dengan perbuatan, memenuhi janji, sabar, berani menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.

8. Munazham fi syu’unihi (teratur dalam semua urusannya)
Seorang kader dakwah harus mampu membangun keteraturan dalam kehidupan pribadi dan keluarganya agar bisa menghadapi persoalan umat yang rumit dan kompleks.
Apalikasi: Memperbaiki penampilan, jadikan shalat sebagai penata waktu, teratur di dalam rumah dan tempat kerjanya, disiplin dalam bekerja, memprogram semua urusan, berpikir secara ilmiah untuk memecahkan persoalan, tepat waktu dan teratur.

9. Haritsun ’ala waqtihi (efisien menjaga waktu)
Untuk menggambarkan betapa pentingnya waktu, ada pepatah mengatakan ”waktu ibarat pedang”. Bila tak mampu dimanfaatkan maka pedang waktu akan menebas leher kita sendiri. Seorang kader harus mampu seefektif mungkin memanfaatkan waktu yang terus bergerak. Tak boleh ada yang terbuang percuma.
Aplikasi: Bangun pagi, menghabiskan waktu untuk belajar, mempersingkat semua urusan (tidak bertele-tele). Mengisi waktu dengan hal-hal yang bermanfaat, tidak tidur setelah fajar.

10. Nafi’un Lighairihi (berguna bagi orang lain)
Rasul menggambarkan kehidupan seorang mukmin itu seperti lebah yang akan memberi manfaat pada lingkungan sekitarnya. Kader dakwah memberi manfaat karena setiap ucapan dan gerakannya akan menjadi teladan bagi sekitarnya.
Aplikasi: Melaksanakan hak orang tua, ikut berpartisipasi dalam kegembiraan, membantu yang membutuhkan, menikah dengan pasangan yang sesuai, komitmen dengan adab Islam di dalam rumah, melaksanakan hak-hak pasangannya (suami-istri), melaksanakan hak-hak anak, memberi hadiah pada tetangga, mendo’akan yang bersin.

Baca Selengkapnya ....

Tutorial Memposting/ Menulis di Blog

Posted by Unknown 0 komentar
Assalamualaikum. wr. wb. pada tulisan kali ini saya akan sedikit menjelaskan bagaimana cara untuk posting artikel di blog berikut ini, adapun tutorialnya sebagai berikut:
Blog PKD Green
  1. Silahkan masuk ke akun blogger sahabat caranya buka link : www.blogger.com kemudia masukkan email dan pasword email sahabat.
  2. Setelah anda masuk kemudian silahkan klik gambar pensil berwarna orange seperti pada gambar berikut :
  3. Kemudian akan muncul media untuk menulis artikel. Penulisan artikel pada blogger sama halnya sahabat menulis artikel pada Microsoft Office. jadi semua kontrol seperti Ctrl+A, Ctrl+B memiliki fungsi yang sama. bahkan sahabat juga dapat menulis dahulu dari Microsoft Word Office kemudian sahabat Block dan di Copy semua ke media penulisan blogger.
  4. Keterangan Penulisan di Blogger : 
  5.  Mulailah menulis sesuatu di kolom yang disediakan.
Tampilan Untuk Entri Baru / Posting Baru
Keterangan gambar diatas (Wajib dilakukan / dibuat)
  • Sebelah kiri Publikasikan ada kotak kosong : Untuk menulis Judul Artikel
  • Publikasikan : Bila kita yakin dengan tulisan kita, maka kita klik Publikasikan (akhir dari penulisan)
  • Simpan : Apabila kita ingin menyimpan tulisan kita sebelum di publikasikan (biasanya masih berlanjut menulis)
  • Pratinjau : Melihat hasil tulisan sebelum di publikasikan (biasanya digunakan bila ingin melihat hasil postingan kita) 
  • Tutup : Menutup halaman entri baru.
  • Compose : Hasil tampilan tulisan kita secara dinamis.
  • HTML :  Tulisan /artikel ditampilkan berupa kode-kode script html (biasa bila ingin menyalin kode-kode script sebaiknya kita gunakan kolom HTML ini)
  • Label : Tulisan kita di kelompokkan dalam kategori apa.
  • Jadwal : Waktu, hari, dan jam kapan postingan ingin di publikasikan
  • Lokasi : Tempat dimana postingan dibuat
  • Deskripsi Penelusuran : Berupa tag 
  • Pilihan : Kita disuruh memilih model penulisan, apakah dengan HTML atau tidak.

Penulisan judul artikel/postingan :


Pengaturan Lain :

  • Publikasikan : Untuk mempublikasikan artikel sahabat ke blog sahabat.
  • Simpan : Untuk menyimpan artikel dalam bentuk draft atau rancangan 
  • Pratinjau : Untuk melihat tampilan pada blog sebelum dipublikasikan
  • Tutup : Untuk menutup jendela jika tidak jadi di publikasikan sehingga tulisan akan tersimpan menjadi draff atau rancangan.
Setelan Postingan :
Keterangan :

  • Label : Berfungsi untuk mengkategorikan postingan sahabat. Contoh jika sahabat membuat judul "Pendidikan Modal untuk Membangun Bangsa" jadi sahabat bisa mengkategorikan sebagai "Pendidikan".
  • Jadwal : Sahabat bisa membuat jadwal pemostingan artikel jika sahabat inginkan.
  • Permalink : Digunakan untuk membuat URL Link yang menjadi URL postingan sahabat. akan tetapi biasanya lebih mudah menggunakan Permalink Aslinya tanpa diubah.
  • Location : sahabat dapat memberi petunjuk dimana lokasi sahabat saat menulis artikel tersebut.
  • Option : Untuk pengaturan tingkat lanjut dan lebih baik menggunakan pengaturan aslinya saja.
Demikian penjelasan saya tentang cara posting artike di blog pada tampilan baru blogger. jika sahabat kurang memahami artikel diatas bisa meninggalkan komentar dibawah untuk diskusi lebih lanjut.

Baca Selengkapnya ....

KAMI HANYA INGIN SEPERTI MEREKA

Posted by Unknown 0 komentar
KAMI HANYA INGIN SEPERTI MEREKA
Kami memang bukan sekelompok pemuda yang harus pergi dari penguasa yang dzalim lagi berbuat syirik dalam mempertahankan keimanannya seperti Ashabul Kahfi, tapi kami ingin belajar seperti mereka mempertahankan keimanan kami,,,
Doa para pemuda kahfi menjadi doa kami :
“Wahai Rabb kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan Kami (ini).” (Al-Kahfi: 10)
Kami bukanlah para Sahabat Rasul pilihan dengan segudang prestasi yang mendapatkan pendidikan luar biasa  dari sang Nabi. Tapi kami berupaya untuk meneladani para Sahabat yang mulia dan tentu sang Guru yang luar biasa.
Kami adalah kader sebuah proses panjang  menjadi pemimpin,,, pemimpin diri, pemimpin keluarga, pemimpin masyrakat, pemimpin Bangsa dan Negara, tidak kami sebut pemimpin Agama karena itu sebuah keharusan,
Allah mengajarkan kami melalui perantara orang-orang bijak lagi baik di Universitas Djuanda Bogor mengajarkan tentang hidup menjadi mulia di dunia yang fana ini dan akhirat yang tak berkesudahan.
Tahun 2006 dimulailah program pengkaderan, Pendidikan Kader Da’wah Namanya, 10 pemuda/I direkrut untuk mengikuti program tersebut. Program ini terus berlanjut dan akan berlanjut….
Kami sadar betul cita-cita para pimpinan kami,,
Doakan kami dalam setiap doa kalian,,
Maafkan kami jika kadang kami belum bisa memahami kalian,,,
Kami akan tetap ada dan berjanji akan tetap berkarya demi Agama ini, bangsa   dan Negara ini,,,

(M. Zaenal Arifin. S.Pd.I)


Baca Selengkapnya ....
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

This Blog?
Klik Klik

Find us on Facebook

Join this Blog